Universal Health Coverage

Universal Health Coverage (UHC) merupakan tujuan yang telah disepakati oleh seluruh negara di dunia sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Indonesia telah meratifikasi tujuan ini sehingga harus menjalankan upaya UHC bagi penduduknya.
Implementasi UHC di negara-negara maju sebagian besar sudah diimplementasikan dengan baik. Hal ini didukung dengan sistem kesehatan dan regulasi di negara-negara maju yang telah mapan. Sementara implementasi UHC di negara-negara berkembang khususnya Afrika dan Asia belum tercapai dan masih dalam inisiasi program dan kebijakan, termasuk Indonesia.
Berdasarkan studi tentang implemetasi UHC pada tahun 2016 di Indonesia dan laporan WHO pada tahun 2017, pencapaian UHC di Indonesia masih dalam tahap pengembangan sistem dan kebijakan yang mendukung perlindungan finansial dan cakupan pelayanan kesehatan. Berbagai tantangan dan hambatan menyebabkan implemetasi UHC belum tercapai.
Proses pencapaian UHC merupakan pekerjaan jangka panjang yang membutuhkan kemauan politis seluruh pihak dan dijalankan secara lintas sektoral.

Baca artikel selengkapnya: Ade Heryana_Universal Health Coverage

Posted in Asuransi kesehatan sosial, Ekonomi Kesehatan, Isu Terkini AKK, Jaminan Kesehatan Nasional, Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, Pembiayaan Kesehatan, Pengantar Kesehatan Masyarakat, Sistem Jaminan Sosial Nasional | Tagged , , | Leave a comment

Internet Gaming Disorder (Kecanduan Games Online)

Internet Gaming Disorder atau kondisi psikologis yang ditandai dengan terjadinya gejala kecanduan terhadap games secara online, dewasa ini menunjukkan peningkatan prevalensi di berbagai negara. Kondisi ini terjadi pula di Indonesia, meskipun belum ada penelitian yang secara khusus menghitung prevalensi IGD.
Faktor penyebab dan dampak dari IGD sebagian besar merupakan aspek psikologis dan sosial, meskipun terdapat aspek bioligis/fisik dalam beberapa kasus tertentu. MMORPG dan MOBA merupakan jenis video games yang paling sering menyebabkan IGD.
Pencegahan IGD dapat dilakukan dengan pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan ini ditujukan baik terhadap individu yang berisiko, individu yang kelompok tertentu, atau individu yang sudah terindikasi IGD.

Baca artikel selengkapnya: Ade Heryana_Kecanduan Games Online

Posted in Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Isu Terkini AKK, Psikologi Kesehatan | Tagged , , | Leave a comment

Kesehatan Mental

Masalah kesehatan mental di Indonesia belum menjadi hal yang prioritas. Hal ini diperbutuk dengan stigma yang salah terhadap gangguan mental pada masyarakat di Indonesia.
Orang yang sehat mental menurut WHO setidaknya memenuhi empat aspek yaitu: (1) mampu menyadari kemampuannya; (2) dapat mengatasi tekanan hidup secara normal; (3) dapat melakukan pekerjaan secara produktif dan menghasilkan manfaat; dan (4) mampu berkontribusi terhadap komunitasnya. Perkembangan disiplin kesehatan mental saat ini merupakan tahap multifaktorial yaitu penanganan orang dengan gangguan mental merupakan kerjasama multisektor.
Faktor penyebab gangguan mental merupakan determinan sosial terhadap kesehatan mental antara lain: (1) diskriminasi sosial; (2) pengalaman tidak diharapkan pada usia dini; (3) buruknya pendidika; (4) pengangguran, pengangguran tidak kentara, dan ketipastian pekerjaan; (5) ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan pengucilan; (6) ketipastian pangan; (7) kualitas perumahan yang buruk dan perumahan yang tidak stabil; (8) pengembangan lingkungan yang tidak diinginkan; dan (9) akses terhadap pelayanan kesehatan yang buruk.
Promosi kesehatan mental adalah upaya meningkatkan kesehatan mental individu dalam komunitas termasuk kelompok individu yang tidak pernah mengalami penyakit mental dan individu yang sedang menderita sakit dan disabilitas. Pencegahan kesehatan mental dilakukan dengan enam jenis intervensi yaitu: (a) promosi kesehatan mental; (b) pencegahan rimer secara universal/menyeluruh; (c) pencegahan primer pada individu tertentu (secara terseleksi); (d) pencegahan primer bagi yang terindikasi ; (e) pencegahan sekunder; dan (f) pencegahan tersier.
Pelayanna kesehatan mental terdiri dari dua jenis yaitu: (1) pelayanan kesehatan primer; dan (2) pelayanan kesehatan rujukan di rumah sakit.
Regulasi yang berkaitan dengan kesehatan mental di Indonesia antara lain: (a) Undang-undang No.36 tahun 2009 BAB IX Pasal 144-151 mengatur tentang kesehatan jiwa; (b) Undang-Undang No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa; (c) Permenkes No. 54 tahun 2017 tentang Penanggulangan Pemasungan pada Orang dengan Gangguan Jiwa; (d) Kepmenkes No. 220 tahun 2002 tentang Pedoman Umum Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM); (e) Kepmenkes No. 48 tahun 2006 tentang Pedoman Penanggulangan Masalah Kesehatan Jiwa dan Psikososial Masyarakat Akibat Bencana Dan Konflik; dam (f) Kepmenkes No. 406 tahun 2009 tentang Kesehatan Jiwa Komunitas.

Baca artikel selengkapnya: Ade Heryana_Kesehatan Mental

Posted in Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Isu Terkini AKK, Pengantar Kesehatan Masyarakat, Promosi Kesehatan, Psikologi Kesehatan | Tagged | Leave a comment

Dana Desa bidang Kesehatan

Dana Desa adalah skema pemberian dana kepada desa yang bersumber dari APBN dalam rangka meningkatkan pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa.
Untuk memastikan Dana Desa digunakan secara efektif maka diperlukan enam prinsip sebagai berikut: keadilan, kebutuhan prioritas, kewenangan desa, partisipatif, swakelola & berbasis sumberdaya, dan memperhatikan tipologi desa.
Prioritas penggunaan Dana Desa disesuaikan dengan tipe desa yang terdiri dari (1) Desa tertinggal atau Desa sangat tertinggal, (2) Desa berkembang, dan (3) Desa maju atau desa mandiri. Seluruh jenis desa tersebut juga harus memprioritaskan penggunaan Dana Desa untuk membangun jaringan komunikasi desa dan lintas budaya desa.
Penggunaan Dana Desa untuk bidang kesehatan sebaiknya mempertimbangkan kewenangan lokal desa yang meliputi: pelayanan dasar kesehatan, sarana dan prasarana kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Prioritas penggunaan Dana Desa untuk bidang kesehatan pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan pembangunan kesehatan di desa dan memberdayakan masyarakat agar tercapai tujuan kesejahteraan masyarakat. Setiap tahun prioritas tersebut dievaluasi.

Baca artikel selengkapnya: Ade Heryana_DAna Desa untuk Kesehatan

Posted in Ekonomi Kesehatan, Isu Terkini AKK, Pembiayaan Kesehatan | Tagged , , | Leave a comment

Penanggulangan Penyakit Tidak Menular

Kemajuan dalam industri dan teknologi telah mengubah perkembangan penyakit di masyarakat. Saat ini penyakit tidak menular menjadi penyakit yang paling banyak diderita dan menyebabkan kematian paling tinggi dibanding penyakit menular. Kondisi ini dsebut dengan transisi epidemiologi.
menurut Permenkes No.71 tahun 2015, Penyakit Tidak Menular (PTM) atau Non-Communicable Diseases (NCDs) adalah penyakit yang tidak bisa ditularkan dari orang ke orang, yang perkembangannya berjalan perlahan dalam jangka waktu yang panjang (kronis).
Faktor risiko PTM ada yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor yang dapat dimodifikasi antara lain merokok, aktivitas fisik, diet tidak sehat dan lingkungan yang sehat. Upaya penanggulangan PTM difokuskan pada faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Dampak PTM dapat mempengaruhi aspek biologis, psikologis, sosial dan ekonomis pada individu yang sakit.
Upaya penanggulangan PTM meliputi: surveilans PTM, promosi kesehatan, deteksi dini, perlindungan khusus dan penanganan kasus. Setiap upaya memiliki sasaran dan tujuan tersendiri, namun dilakukan secara simultan.

Baca artikel selengkapnya:

Posted in Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Isu Terkini AKK | Tagged , , | Leave a comment

Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif

Data merupakan kumpulan hasil pengukuran atau observas terhadap suatu obyek. Data sangat berguna dalam proses pengambilan keputusan karena memberikan masukan dan informasi atau dasar dalam membuat perencanaan, alat pengawasan, dan bahan evaluasi perencanaan.
Karakteristik dan sifat data penelitian kualittatif sangat berbeda dengan penelitian kuantitatif, yakni tidak begitu memperhatikan parameter statistik, serta memiliki fleksibilitas yang tinggi.
Jenis data pada penelitian kualitatif terdiri dari data primer dan sekunder, yang dapat dikumpulkan dengan metode Wawancara Mendalam, Focus Group Discussion, dan Observasi.

Posted in Metodologi Penelitian | Tagged , , | Leave a comment

Informan dan Pemilihan Informan dalam Penelitian Kualitatif

Pada dasarnya dalam penelitian kualitatif tidak mengenal istilah pengambilan sampel dari populasi karena penelitian ini tidak bertujuan untuk melakukan generalisasi terhadap populasi, namun bertujuan menggali informasi secara mendalam sehingga sampel dalam penelian kualitatif disebut dengan informan.
Sebelum menentukan jumlah informan dan melakukan pemilihan informan, tahap pertama yang harus dilakukan peneliti adalah menetapkan unit analisis dari penelitian yang menggambarkan lokasi penelitian, dan terdiri dari enam aspek yaitu orang, struktur, sudut pandang, waktu, geografis, dan aktivitas.
Jumlah informan pada penelitian kualitatif bersifat fleksibel berdasarkan syarat kecukupan dan kesesuaian. Pada beberapa kasus dibutuhkan hanya 1 informan saja. Peneliti dapat menambah, mengurangi, bahkan mengganti informan saat penelitian berlangsung tergantung pada kecukupan dan kesesuaian informasi.
Metode “sampling” pada penelitian kualitatif bersifat tidak random/acak sehingga menggunakan metode non-probabilitas atau ditentukan sendiri oleh peneliti (purposeful sampling). Pada modul ini dijelaskan ada 16 jenis teknik sampling pada penelitian kualitatif.

Baca artikel selengkapnya: Ade Heryana_Informan dan Pemilihan Informan

Posted in Metodologi Penelitian | Tagged , | Leave a comment

Penyusunan Hasil dan Pembahasan pada Penelitian Kualitatif

Penyusunan hasil dan pembahasan berkaitan dengan komponen laporan penelitian lainya seperti latar belakang, landasan teori dan metode penelitian. Dengan demikian peneliti harus memperhatikan keterkaitan antar komponen tersebut.
Penyusunan hasil penelitian kualitatif merupakan inti sari dari data-data yang dikumpulkan dengan metode yang berbeda-beda. Hasil penelitian jangan menyimpang jauh dari tujuan penelitian yang sudah ditetapkan.
Penyusunan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian tidak memiliki teknik dan format yang baku. Setiap peneliti memiliki gaya tersendiri dalam penyusunan hasil dan pembahasan. Namun biasanya setiap institusi memiliki pedoman dalam penyusunan sebuah laporan penelitian.
Teknik pembahasan hasil penelitian umumnya dilakukan dengan metode komparasi antara hasil dengan teori/regulasi/hasil penelitian lain, serta dengan melakukan analisis sebab-akibat terhadap hasil penelitian.
Dalam penyusunan pembahasan hasil penelitian sebaiknya terdapat opini/pendapat peneliti terkait dengan permasalahan yang muncul. Opini tersebut umumnya berbentuk saran atau rekomendasi bagi pihak yang berkepentingan dalam penelitian.
Penyusunan kesimpulan mengacu pada tujuan penelitian, sedangkan penyusunan saran penelitian mengacu pada hasil dan pembahasan penelitian. Saran yang baik adalah dapat menyesuaikan dengan kemampuan lokasi penelitian.

Baca artikel selengkapnya: Ade Heryana_Penyusunan Hasil dan Pembahasan Riset Kualitatif

Posted in Metodologi Penelitian | Tagged , | Leave a comment

Hipotesis dalam Penelitian Kuantitatif

Ketika peneliti merumuskan masalah penelitian (jenis penelitian korelasi, asosiatif, eksperimen), maka terdapat berbagai dugaan-dugaan yang muncul yang kemungkinan akan menjawab hasil penelitian. Misalnya peneliti melakukan studi terhadap perbedaan tekanan darah karyawan sebelum dan sesudah diberikan intervensi senam tiap jam 10.00 dan jam 15.00. Peneliti sudah menduga bahwa akan terjadi perbedaan tekanan darah setelah melakukan senam.

Dugaan-dugaan yang muncul ini disebut dengan hipotesis, yang berasal dari kata ‘hypo’ artinya lemah, dan ‘thesis’ yang artinya teori/pendapat. Jadi hipotesis merupakan pendapat/dugaan yang masih lemah dan harus diputuskan menerima atau menolak hipotesa tersebut dengan uji hipotesis. Hipotesis berguna dalam menuntun atau mengarahkan penelitian selanjutnya.

Baca artikel selengkapnya: Ade Heryana_Hipotesa dan Jenis Penelitian Kuantitatif_Modul

Posted in Metodologi Penelitian | Tagged , | Leave a comment

Model Penentuan Sistem Antrian yang Optimal: Aplikasi pada Pelayanan Kesehatan

Fenomena antrian pada pelayanan kesehatan merupakan topik diskusi yang lumrah dibicarakan baik pada institusi pelayanan kesehatan swasta maupun pemerintah. Sejak diterapkan program Jaminan Kesehatan Nasional oleh pemerintah, terdapat kecenderungan peningkatan waktu yang dibutuhkan pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, yang dapat mempengaruhi kepuasan dan keselamatan pasien. Salah satu teknik Operation Research yang secara probabilistik menganalisis masalah antrian baik dalam sistem produksi atau operasional pelayanan adalah Teori Antrian.

Pada dasarnya teori antrian digunakan untuk mengetahui parameter sistem antrian yang meliputi rata-rata jumlah pelanggan dalam sistem, waktu tunggu, dan tingkat utilitas sistem. Dari parameter antrian ini dapat ditentukan sumberdaya sistem yang optimal secara finansial. Aplikasi teori antrian semakin berkembang sejalan dengan perkembangan metode simulasi dan sistem informasi, salah satunya adalah analisa sensitivitas sistem.

Aplikasi teori antrian dalam pelayanan kesehatan telah banyak membantu manajemen dalam pengambilan keputusan. Pada paper ini penulis merekomendasikan sebuah model untuk menentukan sistem antrian yang optimum berdasarkan biaya operasional yang dihasilkan.

Baca artikel selengkapnya: Ade Heryana_Aplikasi Teori Antrian dalam Pelayanan Kesehatan.docx

Posted in Akuntansi Biaya Pelkes, Biostatistika, Ekonomi Kesehatan, Jaminan Kesehatan Nasional, Operation Researchs, Queueing Theory | Tagged , , , , | Leave a comment